Acara makrab pertama dan keseruan-keseruan lainnya

http://rahman28-28.blogspot.com

Entahlah

http://rahman28-28.blogspot.com

Entahlah

http://rahman28-28.blogspot.com/

Kisah semasa SMA

http://rahman28-28.blogspot.com/

Entahlah

http://rahman28-28.blogspot.com/

Hi...WELCOME TO MY SITE ^^, GREAT ARTICLE HERE !!! FOLLOW AND JOIN MY SITE ^ ^

Minggu, 22 Juni 2025

Jalin Ukhuwah Dengan Silahturahmi

Yaa tepat satu tahun yang lalu, setiap lebaran saya dan keluarga selalu balik ke palembang menemui semua keluarga di sana. Uniknya lagi di dalam keluarga kakek ayah saya ketika menjelang ramadhan kakek saya selalu menyempatkan diri untuk silahturahmi kerumah saudara-saudaranya yang bahkan umurnya lebih muda dari pada kakek saya.
Beliau yang saat ini berusia 90-an tahun masih tampak bugar. Perjalanan jauh pun masih sanggup. Awet bukan ? Mungkin bisa dibilang begitu. Apa rahasianya? Entahlah. Satu hal yang pasti kakek saya terbiasa silahturahim. Bahkan dikatakan bahwa bagi siapa yang sering silahturahim itu menyehatkan. Salah satunya silahturahim, ternyata bagi mereka yang sering silahturahim rezekinya diluaskan, umurnya dipanjangkan. Bukan hanya kemuliaan umur yang bertambah tapi juga kemuliaan umur itu sendiri bertambah.
Sekarang, kita lihat. Rumah yang dihuni dengan rumah yang tidak dihuni oleh orang itu lebih sehat rumah yang dihuni oleh orang. Kalau rumah tidak dihuni ada retaklah, bocorlah, dan lain sebagainya. Ternyata manusia itu bisa mengeluarkan energi yang menyehatkan...yaa menyehatkan. Maka dari itu penting bagi kita untuk silahturahim, entah itu karier, bahkan bisnis untuk seterusnya.
Now our time has been easy in fact,, kita punya sosial media facebook, twitter dan lain sebagainya. Nah hal ini bisa dijadikan sarana silahturahim yang mungkin tempatnya sangat jauh dari kita, ataupun waktu yang terbatas sampai tidak bisa bertemu langsung dengan kita. Yaa walaupun tidak sedekat dengan kita, tapi kita coba disana di facebook, twitter dan lain sebagainya..
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari silahturahim.
#Kalau kalian punya refrensi buku yang menarik mengenai silahturahim. Share ke saya @28erison



PERSIAPAN MENJELANG RAMADHAN
Sekarang, kita lihat
Tidak terasa Ramadhan semakin dekat. Apakah ini ramadhan terakhir bagiku, bagimu, atau bagi kita semua?? Tak ada yang pernah mengetahuinya. Sebagai seorang hamba, kita hanya bisa memohon kepada Allah SWT, supaya kita dapat disampaikan pada ramadhan tahun ini.
Menjelang bulan Ramadhan pastilah akan datang, dan tentu beruntunglah orang yang sudah mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan, karena dengan persiapan tentu saja hasilnya akan lebih baik. Berbicara tentang persiapan. Menjelang ramadhan ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Persiapan apa saja itu
1. Persiapan Hati
Sebelum ramadhan datang, mari kita sucikan hati kita. Barangkali selama ini tanpa kita sadari, kita berbuat salah kepada orang lain, menyimpan rasa dengki, iri, dan sebagainya atas pencapaian saudara-saudara kita. Segeralah meminta maaf. Selain itu, luruskan kembali niat kita dalam ramadhan ini.
2. Persiapan Fisik/Jasadiyah
Jagalah kondisi badan kita sampai nanti tiba dan berlangsungnya ramadhan. Banyak minum air mineral, makan yang teratur, tak lupa mengkonsumsi buah dan sayur, tidur yang terpola dengan baik
3. Meningkatkan Pemahaman
Memperbanyak baca buku atau mempelajari hal-hal yang dapat menambah pahala puasa kita juga harus diperhatikan.
4. Persiapan Program
Nah ini adalah hal yang juga tidak kalah penting untuk dipersiapkan. Kalau tahun lalu kita menargetkan khatam Al Qur’an satu kali selama ramadhan, tahun harus dua kali, atau misalnya 1 hari menuntaskan 1,5 juz. Karena orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik dari sebelumnya. Kalau tahun lalu zakatnya masih dibayar oleh orang tua, yuk mulai menyicil zakat dari hasil keringat kita sendiri, pasti jelas terasa bedanya. Nggak percaya, cobain deh!
5. Mensucikan Diri
Di ramadhan ada satu waktu dimana kita dapat saling berbagi sesama. Melalui zakat fitrah, kita mensucikan diri kita. Memberi kesempatan bagi saudara-saudara yang kurang mampu.
6. Persiapan Sarana dan Prasarana
Mungkin bagi yang susah bangun sahur nih.. bisa beli jam becker dulu, atau minimal mengatur alarm di handphone nya. Yang merasa sulit untuk menuntaskan tilawah 1 juz per hari, selama 10 hari terakhir bisa mengagendakan untuk i’tikaf, sehingga targetan yang tidak tercapai dapat terpenuhi. Biasanya kalau ramai-ramai itu lebih berkesan. Ga ada salahnya Fastabiqul Khairat
Mungkin itu beberapa poin yang perlu dipersiapkan menjelang ramadhan. Semoga ramadhan ini lebih baik dari ramadhan sebelumnya, dan tentunya menjadi ramadhan terbaik kita semua... aamiin. tks.
by Achmad Qusasi AlIkhlash



#Kalau kalian punya cerita yang menarik untuk ramadhan nanti. Share ke saya  @28erison

Kita Yang Tak Pernah Jadi Apa - apa

Aku mengenalnya dari diam.

Dari caranya tersenyum kepada semua orang termasuk aku, tapi tak pernah benar-benar untukku.
Dari langkahnya yang ringan namun lelah, seperti seseorang yang pulang pada rumah yang tak ia rindukan.

Namanya kutulis dalam hati, bukan di surat cinta.
Karena tak ada surat yang bisa aku kirim tanpa melukai nama di cincin yang kugenggam tiap malam.
Dan dia pun begitu. Ada bayang yang memanggilnya pulang setiap senja.
Seorang pria yang ia sebut "suami", tapi tak pernah terdengar cinta dalam penyebutannya.

Kami seperti dua musim yang tak pernah bersentuhan.
Aku datang saat ia pergi. Ia tersenyum saat aku menunduk.
Tapi di antara jeda percakapan, ada ruang hening yang selalu terasa terlalu dalam.
Seolah semesta sedang berbisik, "Kalian pernah saling berharap, tapi tak boleh saling memiliki."

Aku tahu betul rasanya menyayangi seseorang dengan diam.
Diam yang begitu riuh dalam dada.
Diam yang menjerit saat melihat dia menatapmu dengan cara yang tak seharusnya dia berikan pada pria lain.
Aku merasakannya, dalam caranya berbicara padaku: pelan, lembut, seolah ingin bicara lebih banyak tapi tak bisa.

Suatu hari, kami duduk berdua di pantry kantor.
Sunyi. Hanya suara air dispenser dan detak jantung yang mulai lupa caranya tenang.
Ia berkata, "Pernahkah kau merasa... hidupmu salah arah, tapi kamu tak punya pilihan untuk berbalik?"
Aku menatap matanya-mata yang menyimpan luka, dan entah kenapa aku ingin menyembuhkannya.
Tapi aku hanya menjawab, "Setiap hari."

Lalu kami tertawa. Pahit.
Karena yang kami bicarakan adalah hidup kami sendiri.
Pilihan-pilihan yang benar di atas kertas, tapi menyiksa dalam hati.

Kami tahu, kami tidak bisa saling memiliki.
Dia punya janji yang sudah terlalu lama diucapkan hingga tak bisa ditarik kembali.
Cinta kami bukan untuk dilanjutkan. Hanya untuk dipendam, dan perlahan dikubur dalam kenangan.

Mungkin nanti, jika kehidupan memberi kita kesempatan lain di dunia yang berbeda, dalam waktu yang lebih ramah,
kita bisa bertemu sebagai dua jiwa bebas, bukan dua manusia yang terikat janji.
Tapi di sini, di kehidupan yang sekarang, kita hanyalah dua orang yang saling mencintai dengan cara paling menyakitkan:
dengan melepaskan, bahkan sebelum sempat menggenggam.

Dan begitulah cerita ini akan berakhir tanpa pelukan, tanpa perpisahan yang nyata.
Hanya sebuah kenangan kecil, disimpan rapi di antara tumpukan arsip kantor dan kopi yang tak pernah benar-benar habis.
Tentang kita,
yang tak pernah jadi apa-apa.

Bab III Hari Ketika Kita Tidak Lagi Bicara Banyak

Ada hari-hari ketika kita bicara tentang apa saja.

Tentang rasa ingin makan nasi goreng, mie ayam. Tentang tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tentang harapan-harapan kecil untuk masa depan yang tidak muluk-muluk.

Tapi kemudian, entah sejak kapan, obrolan kita jadi makin pendek.
Tidak ada lagi “kamu kenapa?” yang sungguh ingin tahu. Tidak ada lagi “hari ini gimana?” yang dijawab dengan panjang dan jujur.
Semua jadi seperti formalitas.

"Kerjaan gimana?"
"Ya gini dan gitu."

Dan aku tahu, itu tanda-tanda.
Tanda bahwa hubungan ini mulai kehabisan bensin. Kita mulai mendorong mobil cinta ini sambil pura-pura tidak lelah. Padahal, sesungguhnya, sudah tidak tahu arah.

Hari itu aku masih ingat.
Aku menelponmu malam-malam. Hanya ingin dengar suaramu. Tapi kamu bilang,
"Boleh besok aja ngobrolnya?"

Aku mengangguk, walau kamu tidak melihat.
Aku menelan kecewa, meski kamu tidak tahu.

Lalu besoknya, aku tidak menelpon lagi.
Dan kamu tidak menanyakan kenapa.

Begitulah cara kita mulai menjauh.
Bukan karena pertengkaran besar. Tapi karena hal-hal kecil yang dibiarkan mengendap terlalu lama.

Sabtu, 21 Juni 2025

Ayah, Tetaplah Bersama Kami

Ayah…

Hari ini aku melihat tubuhmu terbaring lemah adalah hal paling sulit yang pernah aku saksikan.
Dulu, tangan itu yang paling sering menggendongku,
Langkah itu yang paling sering kutiru saat belajar berdiri.
Sekarang, tangan itu lebih sering menahan sakit tapi tak pernah menahan senyummu untuk kami.

Ini kali kedua aku menangisi mu, bukan karena ocehan mu yang selalu membuat ku menangis, tapi ini karena kondisi ayah. Yang terbaring lemas dan pucat. Kau yang selalu mengajari ku hidup sederhana, berpenampilan sederhana. Bahkan waktu SMP ayah yang mengatarkan ku dengan motor lamanya, sehingga teman2x ku mengejek ku. Karena motor ayah.

Saat itu aku merasa malu sekali, padahal ayah memiliki banyak aset. Padahal ayah bisa membelikan motor baru untuk ayah saya sendiri. Hingga setelah dewasa aku tersadar, bahwa kendaraan yang selalu ayah banggakan dengan motor lamanya itu. Itu tidak lain dan tidak bukan karena kau tidak ingin memamerkan harta mu. Tapi ayah yang mengajarkan ku, untuk hidup sederhana..

Saat ini melihat kondisi ayah
Aku tahu, Ayah lelah.
Transfusi demi transfusi, rasa mual, pusing, dingin…
Tapi Ayah tetap memaksakan diri untuk membuka mata saat kami datang.

Itu cukup buat kami tahu, bahwa Ayah masih ingin bersama.

Ayah, tetaplah berjuang.
Bukan karena kami ingin menahanmu di dunia,
Tapi karena kami belum sanggup berjalan sejauh ini tanpamu.

Aku mencintaimu, Ayah.
Dan di setiap doa, namamu selalu kusebut

Rabu, 11 Juni 2025

Kalau Bukan Kamu, Siapa Lagi?

Pagi itu, Dia membuka matanya lebih lambat dari biasanya. Kepalanya berat, tubuhnya lelah, dan matanya masih menyimpan sisa mimpi buruk, beban kerja yang berat, membuatnya lelah akan semuanya. Karena tekanan dan keadaan yang memaksa. Apakah dia mampu bertahan?
....
Mungkin hanya menunggu waktu yang tersisa, sampai pada akhirnya waktu yang akan menjawab..

Menghela napas panjang. Lalu berdiri. Menyalakan air untuk membasuh muka, seperti mesin yang tahu harus bekerja bahkan sebelum ada perintah.

Hari-harinya seperti gulungan benang kusut yang tak selesai diurai. Selalu ada masalah yang dihadapi, tapi ia mencoba untuk tegar, untuk tidak menceritakan ke siapa pun masalah yang ia hadapi, terlebih. Jika sudah mendekati akhir bulan. Banyak target yang harus ia capai.

bukan tidak bisa menolak. Tapi ada suara kecil di dalam hatinya yang berkata:

"Kalau bukan kamu, siapa lagi?"

Jam istirahat hanya ilusi. Bahkan makan siang sering ia lakukan sambil membalas pesan dan satu rutinitas yang dia jaga.
Karena di waktu-waktu tertentu, dia lewat. Langkahnya ringan, tatapannya seperti langit sore: tenang, dalam, dan selalu menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

...................................................

Malam harinya, setelah semua orang pulang, aku yang masih duduk sendiri di depan layar laptop menyala, dan dinginnya angin malam menyelinap dari sela-sela pintu yang tak tertutup rapat.

Lalu membuka satu catatan pribadi. Dan menulis:

Ia menutup laptopnya. Menatap langit malam.

"Besok akan tetap berat. Tapi setidaknya aku masih bisa melihatnya."

Selasa, 10 Juni 2025

Bab II Tempat Yang Tidak Lagi Dituju

Sore itu, hujan turun lagi.

Aku memarkirkan motor di depan warung kecil yang biasa kami datangi. Warungnya masih sama. Meja kayu di sudut jendela itu masih ada. Bahkan bangku yang selalu dia duduki masih tetap miring satu kaki, seperti dulu.

Tapi dia tidak di sana.

Sudah lama dia tidak di sana.

Padahal dulu, aku selalu datang terlambat. Selalu membuatnya menunggu di meja itu, dengan gelas teh manis yang sudah setengah dingin. Tapi dia tetap tersenyum setiap kali aku datang. Senyum sederhana, tapi selalu berhasil menghapus semua lelahku.

Sekarang, tempat itu hanya jadi warung biasa.
Tanpa senyumnya, tanpa kehadirannya semuanya terasa kosong.


Aku duduk sebentar di bangku itu. Meletakkan laptop di atas meja. Menatap ke luar jendela yang berkabut oleh embun hujan.

Kadang aku bertanya-tanya…
Apa rasanya jadi seseorang yang tidak lagi ditunggu?
Apa rasanya tahu bahwa tempat yang dulu dibangun bersama, perlahan-lahan jadi tempat yang tidak lagi ingin didatangi?

Dan hari itu, aku merasakannya sepenuhnya.

Bukan karena dia sudah bersama orang lain.
Bukan karena dia sudah benar-benar pergi jauh.
Tapi karena aku tahu, di dalam hatinya tidak ada tempat lagi untukku.


“Bang, pesan seperti biasa ya,” kataku pada penjual warung.

Dia menatapku sebentar, lalu tersenyum kecil. “Sendiri aja, Bang?”

Aku mengangguk.
Dan dalam diam, aku sadar… warung ini menyimpan lebih banyak kenangan dibanding rumahku sendiri.


Hujan belum juga reda. Tapi rasanya, aku ingin tetap di sini.

Karena mungkin…
Kadang yang kita rindukan bukan hanya orangnya.
Tapi kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu terasa remeh tapi sekarang terasa mahal.

Tertawa karena hal sepele.
Tangan yang tiba-tiba menggenggam.
Suara yang menyebut nama kita tanpa beban.

Sekarang, semua itu jadi kenangan.
Dan kenangan, seperti hujan sore ini tidak bisa dihentikan.
Kita hanya bisa menunggu… sampai reda dengan sendirinya.

Senin, 09 Juni 2025

BAB I Seperti Ada Yang Hilang Dari Udara


Hari itu biasa saja. Langit mendung seperti biasa, pulang dengan kondisi jalan yang macet seperti biasa, kopi di warung pinggir jalan tetap pahit tanpa gula. Tapi entah kenapa, sejak pagi ini, ada rasa aneh di dadaku. Seperti udara yang biasa aku hirup mendadak terasa kosong. Ada sesuatu yang tidak lengkap. Dan aku tahu apa itu.
......
Ada satu momen yang tidak pernah aku lupakan. Bukan karena itu momen paling indah, tapi karena itu momen yang menandai akhir dari segalanya. Dan dengan satu kalimat itu, semuanya jadi sunyi. Suara motor di luar rumah, bahkan detak jam dinding—semua seperti ikut berhenti.

Aku tidak mengejarnya. Bukan karena tidak ingin, tapi karena tahu: bahwa itu tidak dipaksakan untuk tinggal. Kadang, dia memang harus pergi… dan tetap harus pergi.


Sejak hari itu, aku sering memikirkan bagaimana caranya melupakan seseorang yang dulu pernah jadi bagian. Tapi ternyata jawabannya bukan pada lupa. Melainkan.....

Jawabannya ada pada penerimaan.

Menerima bahwa tidak semua hal yang harus kita miliki.
Menerima bahwa dia adalah lagu indah… yang hanya bisa aku dengar dari jauh.
Menerima bahwa tidak semua "kita" ditakdirkan jadi "selamanya".

Dia mungkin tidak akan pernah bersamaku lagi.
Tapi dengan doa… akan selalu bersamanya.
Tanpa perlu dia tahu. Tanpa perlu dia membalas. Tanpa perlu lagi saling memiliki.

Kamis, 05 Juni 2025

Kau Tersenyum, Aku Terdiam

Di balik senyummu yang tenang itu,

ada dunia yang sudah bukan milikku.

Kau berdiri gagah di hadapan harapan-harapanmu,

dan aku hanya bayangan yang tertinggal di belakang waktu.



Aku tak pernah menyesal mengenalmu.

Kau yang sederhana dalam gaya,

tapi dalam diamnya, punya dunia yang penuh makna.

Warna-warna di jilbabmu seperti harapan yang tak bisa kupeluk,

dan tawa ringanmu… adalah doa yang tak pernah dijawab.


Aku tahu, kau telah memilih arah.

Ada tangan lain yang kini menggenggam langkahmu.

Tapi bagaimana mungkin hati bisa berkompromi,

jika setiap detik melihatmu justru menambah rindu yang tak tahu malu?


Aku tak ingin merebutmu.

Aku hanya ingin kau tahu:

di dunia yang luas ini,

ada seseorang yang pernah (dan mungkin akan selalu)

menyimpanmu dalam diam,

tanpa menuntut, tanpa mengusik.


Kau milik orang lain,

tapi kenangan tentangmu adalah milik hatiku sendiri.

Dalam Doa yang Tak Bernama

Aku tahu kau bukan milikku,

dan hatimu telah memilih jalan yang lain.

Namun di setiap sujud yang paling sunyi,

namamu sering singgah tanpa izin.



Aku tak meminta Allah membawamu padaku,

aku hanya mohon agar rasa ini tidak menjauhkan aku dari-Nya.

Karena cinta sejati,

adalah saat aku merelakanmu… sambil tetap mendoakanmu dalam diam

Kamis, 10 April 2025

Antara Rasa dan Kewajiban

Aku menatapnya dari kejauhan, mencoba mengabaikan debaran yang tak seharusnya ada. Dia tertawa-ringan, bebas, seperti angin yang berlarian di padang ilalang. Cahaya sore memantulkan kilau lembut di matanya, dan untuk sesaat, aku lupa segalanya.

Tapi dunia ini tak sesederhana itu.

Ketika dia mendekat, suaranya lembut seperti alunan lagu lama yang hampir kulupakan. "Kau baik-baik saja?" tanyanya, mungkin menyadari ada pergolakan di dalam dadaku.

Aku tersenyum. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum yang menyembunyikan begitu banyak hal.

"Aku baik," jawabku.

Dan aku memang harus baik. Karena meski hatiku berbisik bahwa aku menginginkannya, ada janji yang sudah lebih dulu kuikatkan pada seseorang.

Aku mengambil napas dalam-dalam, menenangkan diri. Lalu, dengan suara yang hampir tak terdengar, aku berkata, "Aku menyukaimu, tapi... aku tidak bisa."

Dia terdiam, hanya menatapku dengan mata yang penuh pengertian. Angin sore berhembus di antara kami, membawa pergi kata-kata yang tak pernah terucap, perasaan yang tak pernah bisa dimiliki.

Kadang, cinta bukan tentang memiliki. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan, bahkan sebelum menggenggamnya.

#Bulan

DO LEAVE A COMMENT, THANK YOU FOR VISITING.. HAVE NICE DAY ^ ^