Ada hari-hari ketika kita bicara tentang apa saja.
Tentang rasa ingin makan nasi goreng, mie ayam. Tentang tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tentang harapan-harapan kecil untuk masa depan yang tidak muluk-muluk.
Tapi kemudian, entah sejak kapan, obrolan kita jadi makin pendek.
Tidak ada lagi “kamu kenapa?” yang sungguh ingin tahu. Tidak ada lagi “hari ini gimana?” yang dijawab dengan panjang dan jujur.
Semua jadi seperti formalitas.
"Kerjaan gimana?"
"Ya gini dan gitu."
Dan aku tahu, itu tanda-tanda.
Tanda bahwa hubungan ini mulai kehabisan bensin. Kita mulai mendorong mobil cinta ini sambil pura-pura tidak lelah. Padahal, sesungguhnya, sudah tidak tahu arah.
Hari itu aku masih ingat.
Aku menelponmu malam-malam. Hanya ingin dengar suaramu. Tapi kamu bilang,
"Boleh besok aja ngobrolnya?"
Aku mengangguk, walau kamu tidak melihat.
Aku menelan kecewa, meski kamu tidak tahu.
Lalu besoknya, aku tidak menelpon lagi.
Dan kamu tidak menanyakan kenapa.
Begitulah cara kita mulai menjauh.
Bukan karena pertengkaran besar. Tapi karena hal-hal kecil yang dibiarkan mengendap terlalu lama.







0 comments:
Posting Komentar