Aku mengenalnya dari diam.
Dari caranya tersenyum kepada semua orang termasuk aku, tapi tak pernah benar-benar untukku.
Dari langkahnya yang ringan namun lelah, seperti seseorang yang pulang pada rumah yang tak ia rindukan.
Namanya kutulis dalam hati, bukan di surat cinta.
Karena tak ada surat yang bisa aku kirim tanpa melukai nama di cincin yang kugenggam tiap malam.
Dan dia pun begitu. Ada bayang yang memanggilnya pulang setiap senja.
Seorang pria yang ia sebut "suami", tapi tak pernah terdengar cinta dalam penyebutannya.
Kami seperti dua musim yang tak pernah bersentuhan.
Aku datang saat ia pergi. Ia tersenyum saat aku menunduk.
Tapi di antara jeda percakapan, ada ruang hening yang selalu terasa terlalu dalam.
Seolah semesta sedang berbisik, "Kalian pernah saling berharap, tapi tak boleh saling memiliki."
Aku tahu betul rasanya menyayangi seseorang dengan diam.
Diam yang begitu riuh dalam dada.
Diam yang menjerit saat melihat dia menatapmu dengan cara yang tak seharusnya dia berikan pada pria lain.
Aku merasakannya, dalam caranya berbicara padaku: pelan, lembut, seolah ingin bicara lebih banyak tapi tak bisa.
Suatu hari, kami duduk berdua di pantry kantor.
Sunyi. Hanya suara air dispenser dan detak jantung yang mulai lupa caranya tenang.
Ia berkata, "Pernahkah kau merasa... hidupmu salah arah, tapi kamu tak punya pilihan untuk berbalik?"
Aku menatap matanya-mata yang menyimpan luka, dan entah kenapa aku ingin menyembuhkannya.
Tapi aku hanya menjawab, "Setiap hari."
Lalu kami tertawa. Pahit.
Karena yang kami bicarakan adalah hidup kami sendiri.
Pilihan-pilihan yang benar di atas kertas, tapi menyiksa dalam hati.
Kami tahu, kami tidak bisa saling memiliki.
Dia punya janji yang sudah terlalu lama diucapkan hingga tak bisa ditarik kembali.
Cinta kami bukan untuk dilanjutkan. Hanya untuk dipendam, dan perlahan dikubur dalam kenangan.
Mungkin nanti, jika kehidupan memberi kita kesempatan lain di dunia yang berbeda, dalam waktu yang lebih ramah,
kita bisa bertemu sebagai dua jiwa bebas, bukan dua manusia yang terikat janji.
Tapi di sini, di kehidupan yang sekarang, kita hanyalah dua orang yang saling mencintai dengan cara paling menyakitkan:
dengan melepaskan, bahkan sebelum sempat menggenggam.
Dan begitulah cerita ini akan berakhir tanpa pelukan, tanpa perpisahan yang nyata.
Hanya sebuah kenangan kecil, disimpan rapi di antara tumpukan arsip kantor dan kopi yang tak pernah benar-benar habis.
Tentang kita,
yang tak pernah jadi apa-apa.







0 comments:
Posting Komentar