Acara makrab pertama dan keseruan-keseruan lainnya

http://rahman28-28.blogspot.com

Entahlah

http://rahman28-28.blogspot.com

Entahlah

http://rahman28-28.blogspot.com/

Kisah semasa SMA

http://rahman28-28.blogspot.com/

Entahlah

http://rahman28-28.blogspot.com/

Hi...WELCOME TO MY SITE ^^, GREAT ARTICLE HERE !!! FOLLOW AND JOIN MY SITE ^ ^

Rabu, 04 Februari 2026

Aku Ingin Pulang

Aku kangen dengan-Mu, ya Allah.

Rindu yang sering tak pandai kujelaskan dengan kata-kata. Ia datang diam-diam, di sela lelah, di antara doa-doa yang tak selalu sempurna.

Aku tahu aku sering jauh.
Sering lalai, sering menunda, sering lebih sibuk dengan dunia daripada mengingat-Mu. Tapi di saat-saat sunyi, hanya satu keinginan yang jujur muncul: aku ingin pulang.

Aku ingin sekali cepat kembali pada-Mu.
Bukan karena hidup selalu menyakitkan,
tetapi karena hatiku terlalu sering kosong tanpa-Mu.

Jika langkahku lambat, kuatkan aku.
Jika jalanku berbelok, luruskan aku.
Dan jika aku jatuh, jangan biarkan aku lupa arah pulang.

Aku tidak meminta hidup yang mudah.
Aku hanya ingin hati yang tenang saat menyebut nama-Mu.
Karena sejauh apa pun aku pergi, aku tahu
rumahku selalu ada pada-Mu.

Ya Allah,
jika rindu ini adalah tanda,
maka tuntunlah aku agar benar-benar sampai.

Aku ingin pulang.

Seseorang Yang Pernah Berharap, Lalu Belajar Merelakan.

Untukmu,

Yang pernah kupikir akan mengerti aku.

Aku menulis ini bukan untuk meminta penjelasan, apalagi jawaban. Surat ini hanya tempatku menyimpan kejujuran yang tak sempat diucapkan.

Dulu aku percaya, kehadiranmu cukup untuk membuatku merasa dimengerti. Bukan karena kau selalu tahu apa yang harus dikatakan, tetapi karena aku merasa tak perlu berpura-pura saat bersamamu. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Namun perlahan aku sadar, pengertian tidak selalu tumbuh seiring kedekatan. Ada jarak yang tak tercipta oleh waktu, melainkan oleh perbedaan cara bertahan. Aku memilih diam dan berharap kau mengerti, sementara kau mungkin memilih menjauh agar tetap utuh.

Aku sempat kecewa. Bukan karena kau tak bertahan, melainkan karena aku terlalu yakin kau akan mampu. Tapi hari ini aku mengerti, harapan yang tak diucapkan sering kali berubah menjadi beban yang tak disadari.

Aku tidak menyimpan marah. Tidak juga menyalahkan. Yang tersisa hanyalah penerimaan bahwa kita bertemu untuk saling belajar.

Jika suatu hari kau mengingatku, ingatlah sebagai seseorang yang pernah percaya padamu dengan tulus. Dan jika aku mengingatmu, aku akan melakukannya tanpa luka, hanya sebagai bagian dari perjalanan yang pernah berarti.

Surat ini tidak akan sampai padamu.
Dan mungkin memang tidak perlu.
Cukup aku yang selesai membacanya.

Bab IV: Hujan di Ujung Sore Itu

 Hujan turun tiba-tiba di ujung sore itu. Tanpa aba-aba, tanpa mendung yang serius. Seperti kenangan yang datang tanpa diundang.

Aku sedang berdiri di depan warung kecil, tak jauh dari taman yang dulu sering kami datangi. Payung lusuh bergantung di pinggiran pintu, dan si ibu penjaga warung hanya mengangguk ketika aku meminjamnya tanpa kata.

Aku tidak tahu kenapa langkahku membawaku ke tempat ini. Mungkin kaki memiliki ingatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Sama seperti hatiku.

Saat melangkah ke tengah taman, air hujan menyiram rambut dan bajuku. Tapi anehnya, aku tidak merasa basah. Aku merasa... kosong. Kosong seperti bangku taman di sudut sana—yang biasanya kau duduki sambil menyodorkan kopi instan dan bercerita soal dosenmu yang terlalu banyak memberi tugas.

Waktu itu, kau tertawa keras. Matamu menyipit, suaramu pecah di ujung. Dan aku selalu mengira tawa itu akan bertahan lama. Tapi ternyata, waktu juga bisa mencuri suara.

Sekarang, hanya ada rintik hujan yang jatuh di tanah merah. Dan bangku yang dingin.

Aku duduk di sana, meski celanaku basah. Ada sesuatu yang sesak, namun tidak bisa aku tangisi. Barangkali ini yang disebut orang-orang sebagai rindu yang sudah melewati batas wajar.

Rindu yang tidak minta dibalas.

Hanya diam. Hanya duduk. Hanya mengingat bahwa pernah ada seseorang yang duduk di sini, yang berkata,
"Kita nggak tahu ya, siapa nanti yang akan benar-benar kita nikahi. Tapi aku tahu, kalau hari ini aku mencintaimu."

Dan ternyata... hari itu sudah pergi. Bersama kamu. Bersama kemungkinan-kemungkinan yang tidak lagi kita genggam.

Selasa, 03 Februari 2026

“Apakah Aku Terlalu Mudah Percaya Pada Manusia?”

Aku menyimpan kalimat itu baik-baik. Aku bekerja tanpa banyak bertanya, menahan lelah, menyingkirkan curiga. Karena bagiku, kepercayaan jauh lebih mahal daripada sekadar angka.

Sampai suatu hari, janji itu seperti tak pernah ada. Saat itu aku belajar satu hal pahit:
tidak semua yang pandai berbicara tentang agama, pandai menjaga amanah. Adalah orang yang amanah

Kekecewaan itu belum sempat sembuh, ketika kekecewaan lain datang dari arah berbeda. Tapi waktu berlalu, dan yang datang bukan jawaban melainkan penghindaran. Janji-janji itu menguap satu per satu. Yang tersisa hanya tanggung jawab yang terus bertambah, tanpa penghargaan, tanpa kejelasan.

Aku lelah, tapi tak tahu kepada siapa harus mengeluh.

Malam-malamku menjadi sunyi sejak itu.

Aku sering bertanya dalam hati,
“Apakah aku terlalu mudah percaya pada manusia?”

Namun perlahan aku mengerti: mungkin bukan salahku berharap baik. Yang salah adalah ketika aku menggantungkan harapan sepenuhnya pada manusia.

Kini aku masih percaya pada Allah swt. Dengan lebih mendalam.
Karena dari semua kekecewaan itu, aku belajar bahwa manusia bisa ingkar, bisa lupa, bisa berpura-pura. Tapi Allah tidak pernah.

Aku berjalan lebih pelan sekarang.
Lebih hati-hati memberi percaya.
Lebih selektif memberi harapan.

Bukan karena aku menjadi dingin,
melainkan karena aku sudah tahu rasanya kecewa
dan aku tak ingin mengulanginya, pada orang yang sama, dengan luka yang serupa.

DO LEAVE A COMMENT, THANK YOU FOR VISITING.. HAVE NICE DAY ^ ^