Aku menyimpan kalimat itu baik-baik. Aku bekerja tanpa banyak bertanya, menahan lelah, menyingkirkan curiga. Karena bagiku, kepercayaan jauh lebih mahal daripada sekadar angka.
Sampai suatu hari, janji itu seperti tak pernah ada. Saat itu aku belajar satu hal pahit:
tidak semua yang pandai berbicara tentang agama, pandai menjaga amanah. Adalah orang yang amanah
Kekecewaan itu belum sempat sembuh, ketika kekecewaan lain datang dari arah berbeda. Tapi waktu berlalu, dan yang datang bukan jawaban melainkan penghindaran. Janji-janji itu menguap satu per satu. Yang tersisa hanya tanggung jawab yang terus bertambah, tanpa penghargaan, tanpa kejelasan.
Aku lelah, tapi tak tahu kepada siapa harus mengeluh.
Malam-malamku menjadi sunyi sejak itu.Aku sering bertanya dalam hati,
“Apakah aku terlalu mudah percaya pada manusia?”
Namun perlahan aku mengerti: mungkin bukan salahku berharap baik. Yang salah adalah ketika aku menggantungkan harapan sepenuhnya pada manusia.
Kini aku masih percaya pada Allah swt. Dengan lebih mendalam.
Karena dari semua kekecewaan itu, aku belajar bahwa manusia bisa ingkar, bisa lupa, bisa berpura-pura. Tapi Allah tidak pernah.
Aku berjalan lebih pelan sekarang.
Lebih hati-hati memberi percaya.
Lebih selektif memberi harapan.
Bukan karena aku menjadi dingin,
melainkan karena aku sudah tahu rasanya kecewa
dan aku tak ingin mengulanginya, pada orang yang sama, dengan luka yang serupa.








0 comments:
Posting Komentar