Untukmu,
Yang pernah kupikir akan mengerti aku.
Aku menulis ini bukan untuk meminta penjelasan, apalagi jawaban. Surat ini hanya tempatku menyimpan kejujuran yang tak sempat diucapkan.
Dulu aku percaya, kehadiranmu cukup untuk membuatku merasa dimengerti. Bukan karena kau selalu tahu apa yang harus dikatakan, tetapi karena aku merasa tak perlu berpura-pura saat bersamamu. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.
Namun perlahan aku sadar, pengertian tidak selalu tumbuh seiring kedekatan. Ada jarak yang tak tercipta oleh waktu, melainkan oleh perbedaan cara bertahan. Aku memilih diam dan berharap kau mengerti, sementara kau mungkin memilih menjauh agar tetap utuh.
Aku sempat kecewa. Bukan karena kau tak bertahan, melainkan karena aku terlalu yakin kau akan mampu. Tapi hari ini aku mengerti, harapan yang tak diucapkan sering kali berubah menjadi beban yang tak disadari.
Aku tidak menyimpan marah. Tidak juga menyalahkan. Yang tersisa hanyalah penerimaan bahwa kita bertemu untuk saling belajar.
Jika suatu hari kau mengingatku, ingatlah sebagai seseorang yang pernah percaya padamu dengan tulus. Dan jika aku mengingatmu, aku akan melakukannya tanpa luka, hanya sebagai bagian dari perjalanan yang pernah berarti.
Surat ini tidak akan sampai padamu.
Dan mungkin memang tidak perlu.
Cukup aku yang selesai membacanya.







0 comments:
Posting Komentar